Oleh : Aulia Rachma*
Memasuki bulan suci Ramadan 1447 Hijriah, Indonesia sudah bergerak cepat memastikan ketersediaan dan pengelolaan pangan nasional berjalan optimal. Antisipasi ini menjadi sangat penting karena Ramadan bukan hanya momen spiritual tetapi juga fase di mana permintaan kebutuhan pokok meningkat signifikan di masyarakat. Pemerintah bersama berbagai pemangku kebijakan padu dalam menyusun strategi agar stok pangan aman, harga terjangkau, dan kualitas pangan terjaga sehingga umat Muslim dapat menjalankan ibadah puasa dan tradisi halal bihalal dengan tenang.
Dari data proyeksi neraca pangan nasional yang dirilis pemerintah, terlihat bahwa ketersediaan berbagai komoditas strategis seperti beras, jagung, kedelai, daging sapi dan kerbau, daging ayam, telur, bawang merah dan putih, minyak goreng, gula konsumsi, serta cabai berada dalam kondisi aman hingga menjelang akhir Maret 2026. Bahkan sebagian komoditas menunjukkan surplus yang cukup besar dibanding kebutuhan konsumsi selama periode Ramadan dan Idulfitri. Hal ini menunjukkan bahwa negara tidak hanya fokus pada jumlah stok, tetapi juga distribusi yang merata dan pengawasan yang ketat dari hulu hingga hilir.
Kesiapan stok pangan ini juga ditegaskan oleh pejabat tinggi pemerintah, termasuk Menteri Perdagangan Budi Santoso yang menegaskan bahwa harga dan pasokan bahan pokok umumnya stabil menjelang Ramadan. Dalam kunjungannya ke pasar tradisional di Sukoharjo, Jawa Tengah, ia menyampaikan bahwa harga gula, ayam, telur, hingga minyak goreng berada di bawah atau sesuai batas harga acuan, dengan pasokan yang memadai bagi konsumen yang mulai menyiapkan kebutuhan Ramadan. Namun meskipun kondisinya mayoritas stabil, beberapa komoditas seperti beras medium dan cabai merah masih memerlukan perhatian dalam hal harga agar tetap terjangkau oleh semua kalangan masyarakat.
Dalam konteks yang sama, langkah-langkah konkret untuk memperkuat ketahanan pangan tidak hanya datang dari pemerintah pusat. Holding BUMN pangan seperti ID FOOD juga memainkan peran kunci dengan menyiapkan persediaan sejumlah komoditas strategis yang tersebar dari Aceh hingga Papua. ID FOOD telah menyiapkan ribuan ton gula, minyak goreng, daging ayam, serta stok daging ruminansia dan telur ayam sebagai buffer stock guna menjaga agar kebutuhan pangan tetap terpenuhi meskipun permintaan meningkat selama Ramadan dan Idulfitri. Pendekatan ini menunjukkan sinergi yang kuat antara korporasi pangan milik negara dengan kebijakan pemerintah dalam pengendalian ketersediaan pasokan pangan secara nasional.
Tak kalah pentingnya adalah peran aparat keamanan dalam mendukung pengelolaan pangan yang baik. Satgas Pangan Polres Tanjungperak memastikan bahwa stok bahan pokok aman menjelang Ramadan, sambil memantau dan mencegah potensi tindakan spekulatif atau penimbunan yang bisa berdampak pada kenaikan harga mendadak di pasar lokal. Kasi Humas Polres Pelabuhan Tanjungperak, Iptu Suroto mengatakan praktik pengawasan seperti ini membantu menjaga stabilitas pasar tradisional yang menjadi pusat transaksi pangan sehari-hari bagi mayoritas masyarakat Indonesia.
Berbagai daerah di Indonesia memberikan kabar positif terkait stok pangan. Di Sumatera Utara, misalnya, Gubernur Sumatera Utara Muhammad Bobby Afif memastikan bahwa stok berbagai bahan pokok telah surplus menjelang Ramadan dan Idulfitri, menciptakan rasa aman bagi warga setempat atas kebutuhan dasar mereka selama bulan suci. Sementara itu, di Jawa Tengah, pemerintah provinsi menyatakan bahwa stok pangan tetap aman meskipun sempat terdampak banjir dan longsor di beberapa wilayah, menunjukkan ketangguhan sistem distribusi dan manajemen stok di tengah tantangan alam.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan bahwa Pemerintah akan menyalurkan bantuan pangan senilai Rp11,92 triliun untuk mendukung kebutuhan masyarakat jelang Ramadhan dan Idul Fitri 2026. Hal ini guna memperluas daya beli masyarakat sekaligus memperkuat permintaan, pemerintah daerah maupun kementerian/lembaga yang terkait diharapkan juga bisa mendukung kelancaran logistik untuk penyaluran bantuan pangan.
Berita lainnya memperkuat narasi bahwa pemerintah pusat juga terus memantau pasokan pangan secara nasional melalui berbagai kajian dan evaluasi lapangan yang intensif. Kepastian ini menjadi landasan bagi rakyat Indonesia untuk mempersiapkan diri tanpa kekhawatiran akan kekurangan atau lonjakan drastis harga pangan pokok dalam bulan Ramadan, sehingga umat dapat fokus pada pelaksanaan ibadah dan kegiatan sosial keagamaan yang khas selama bulan suci.
Namun kenyataan di pasar juga mengingatkan bahwa stabilnya stok dan harga bukan berarti tanpa tantangan. Kenaikan harga di beberapa pasar tradisional menjadi sinyal bahwa koordinasi antara produksi, distribusi, dan pengawasan pasar harus tetap dijaga. Selain itu, edukasi kepada konsumen mengenai pola belanja cerdas serta peran aktif pelaku usaha kecil dan menengah juga menjadi bagian penting dalam menjaga stabilitas pangan. Semua elemen ini berkontribusi terhadap terciptanya suasana Ramadan yang khusyuk tanpa terganggu oleh kekhawatiran kebutuhan pangan.
Dengan latar belakang tersebut, jelas bahwa dukungan terhadap pengelolaan pangan yang baik bukan sekadar tugas pemerintah, tetapi juga melibatkan seluruh elemen masyarakat dari produsen, distributor, aparat keamanan, hingga konsumen itu sendiri. Kolaborasi yang kuat dan kebijakan yang responsif menjadi kunci agar Ramadan tahun ini dijalankan dalam suasana penuh ketenangan, keimanan, dan kebersamaan. Ketika pangan dikelola dengan baik, masyarakat dapat menjalankan ibadah puasa, berbuka bersama keluarga dan tetangga, serta menyambut hari kemenangan tanpa tekanan ekonomi yang berlebihan.
)*Pengamat Publik